TESTING
MAKALAH
FILSAFAT
PENDIDIKAN
ALIRAN
FILSAFAT PENDIDIKAN

DOSEN
PEMBIMBING
Faradilla
Iedliany, M.Psi., Psikolog
DISUSUN
OLEH KELOMPOK 3:
1. M.Subari 8620601220002
2. Zaitun Ulfah 8620601220011
PROGRAM
STUDI SARJANA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS
BORNEO LESTARI
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat
waktu.
Makalah ini
berjudul “Aliran Filsafat Pendidikan”. Makalah ini berisikan uraian mengenai
aliaran filsafat pendidikan berdasarkan pengkajian terhadap fenomena atau
gejala dan eksistensi manusia dalam pengembangan hidup dan kehidupannya dalam
alam dan lingkungannya .
Dalam penulisan
makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dan mendidik untuk perbaikan selanjutnya. Walaupun demikian penulis
tetap berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya
DAFTAR ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Eksistensi berarti keberadaan, akan tetapi di dalam filsafat
eksistensialisme istilah eksistensi memiliki arti tersendiri. Tampaknya di
dalam filsafat eksistensialisme istilah eksistensi memiliki arti cara manusia
berada di dalam dunia, dan hal ini berada dengan cara yang berbeda, sebab tidak
sadar akan keberadaannya sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan yang
lain, dan berada di samping yang lain. Secara lengkap eksistensi memiliki
hubungan dengan yag lain, dan berada di samping yang lain. Secara lengkap eksistensi
memiliki arti bahwa manusia berdiri sebagai dirinya dengan keluar dari diri
sendiri. Maksudnya ialah manusia sadar bahwa dirinya ada.
Menurut Heidegger (Sudarsono, 1993:345-346), persoalan
tentang “berada” ini hanya dapat dijawab melalui ontology artinya: jika
persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu.
Supaya usaha ini berhasil harus dipergunakan metode fenomenologis. Deemikian
yang penting ialah menemukan arti “berada” itu. Guna menentukan arti berada itu
manusia harus diselidiki dalam wujudnya yang biasa tampak sehari-hari.
Heidegger bermaksud mengetahui keadan manusia sebelum keadaan tu dipikirkan
secara ilmiah, yaitu dalam perwujudannya yang belum ditafsirkan. Hasil usahanya
ini ialah bahwa ia menemukan manusia yang di dalam dunia. Oleh karena
manusia berada di dalam dunia maka ia dapat memberi tempat kepada benda-benda
di sekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan juga dengan
manusia-manusia yang lain, dapat bergaul dan berkomunikasi dengan semuanya itu.
J.P Sartre
menyatakan eksistensi manusia mendahului esensinya. Pandangan ini amat janggal
sebab biasanya sesuatu harus ada esensinya lebih dulu sebelum keberadaannya.
Menurut ajaran eksistensialisme, eksistensi manusia mendahului esensinya. Hal
ini berbeda dari tumbuhan, hewan, dan bebatuan yang esensinya mendahului
eksistensinya, seandainya mereka punya eksistensi. Di dalam filsafat idealism,
wujud nyata (existence) dianggap
mengikuti hakikat (essence). Jadi
hakikat manusia mempunyai ciri khas tertentu, dan ciri itu menyebabkan manusia
berbeda dari makhluk lain. Oleh karena itu, dikatakan bahwa manusia itu
eksistensinya mendahului esensinya. Dan formula ini merupakan prinsip utama dan
pertama di dalam filsafat eksistensialisme (Fuad, 2010:180-181).
Menurut Callahan, 1983 (dalam
Pidarta, 2007:93-94) filsafat
pendidikan eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah
eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia di dunia
ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia.
Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan
komitmennya sendiri.
Seseorang
akan menjadi tahu tentang sesuatu melalui pengalaman. Hal itu bergantung pada
tingkat kesadaran masing-masing untuk mencari pengalaman. Kebenaran menurut
mereka adalah relatif bergantung kepada keputusan mereka masing-masing. Begitu
pula nilai-nilai ditentukan oleh setiap individu. Orang tidak perlu
menyesuaikan diri dengan nilai-nilai
sosial agar eksistensinya tidak hilang.
Ada
beberapa pandangan penganut filsafat ini sehubungan dengan eksistensi, yakni:
a) Eksistensi adalah cara
manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi, manusialah sebagai pusat
perhatian, sehingga bersifat humanistis.
b) Bereksistensi tidak statis tetapi
dinamis, yang berarti menciptakan dirinya secara aktif, merencanakan,berbuat
dan menjadi.
c) Manusia dipandang selalu
dalam proses menjadi belum selesai dan terbuka serta realistis. Namun demikian
manusia terikat dengan dunia sekitarnya terutama sesama manusia (Edward dan
Yusnadi, 2015: 28 ).
Pendidikan
menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran individu, memberi
kesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangan pengetahuan diri
sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan mengembangkan komitmen diri. Materi
pelajaran harus memberi kesempatan aktif sendiri, merencana dan melaksanakan
sendiri, baik dalam bekerja sendiri, maupun kelompok. Materi yang dipelajari
ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kehidupan manusia. Peserta didik perlu
mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual mereka.
Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar tidak langsung (Pidarta,
2007:94).
Eksistensi
manusia sebagai makhluk hidup di muka bumi ini memiliki hakikat-hakikat sebagai
berikut ini:
1.
Manusia sebagai Makhluk Tuhan
Manusia
adalah subjek yang memiliki kesadaran (consciousness) dan penyadaran diri
(self-awarness). Karena itu, manusia adalah subjek yang menyadari
keberadaannya, ia mampu membedakan dirinya dengan segala sesuatu yang ada di
luar dirinya (objek), selain itu manusia bukan saja mampu berpikir tentang diri
dan alam sekitarnya, tetapi sekaligus sadar tentang pemikirannya. Namun,
sekalipun manusia menyadari perbedaan dengan alam bahwa konteks keseluruhan
alam semesta manusia merupakan bagian daripadanya.
Terdapat
dua pandangan filsafat yang berbeda tentang asal-usul alam semesta, yaitu Evolusionisme dan Kreasionisme. Menurut Evolusionisme,
alam semesta menjadi ada bukan karena diciptakan oleh Sang Pencipta atau Prima
Causa, melainkan ada dengan sendirinya, alam semesta berkembang dari alam itu
sendiri sebagai hasil evolusi. Sebaliknya, Kreasionisme menyatakan bahwa adanya
alam semesta adalah sebagai hasil ciptaan suatu Crative Cause atau Personality, yang kita sebut sebagai Tuhan Yang
Maha Esa.
Bertolak
dari pandangan tersebut, secara umum ada dua pandangan yang berbeda pula
tentang asal-usul manusia. Menurut Evolusionisme beradanya manusia di alam
semesta adalah sebagai hasil evolusi. Sebaliknya Kreasionisme menyatakan bahwa
beradanya manusia di alam semesta sebagai makluk (ciptaan) Tuhan.
Oleh
karena itu manusia berkedudukan sebagai makluk Tuhan Yang Maha Esa maka dalam
pengalaman hidupnya terlihat bahkan dapat kita alami sendiri adanya Fenomena Kemakhlukan. Fenomena
kemakhlukan ini, antara lain berupa pengakuan atas kenyataan adanya perbedaan
kodrat dan martabat manusia daripada Tuhannya. Manusia merasakan dirinya begitu
kecil dan rendah di hadapan Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Manusia
mengakui keterbatasan dan ketidakberdayaannya dibanding Tuhannya yang Maha
Kuasa dan Maha Perkasa. Manusia serba tidak tahu, sedangkan Tuhan serba Maha
Tahu. Manusia bersifat fana, sedangkan Tuhan bersifat abadi, manusia merasakan
kasih sayang TuhanNya, namun ia pun tahu begitu pedih siksaNya.
Dengan
demikian, di balik adanya rasa cemas dan takut itu muncul pula adanya harapan yang mengimplikasikan kesiapan
untuk mengambil tindakan dalam hidupnya. Adapun hal tersebut dapat menimbulkan
kejelasan akan tujuan hidupnya, menimbulkan sikap positif dan familiaritas akan
masa depannya.
2.
Manusia sebagai Kesatuan Badan-Roh
Terdapat
empat paham mengenai struktur metafisik manusia, yaitu Materialisme, Idealisme,
Dualisme, dan paham yang menyatakan bahwa manusia adalah kesatuan badan-roh.
Ø Materialisme : alam semesta
atau realitas ini tiada lain adalah serba materi, zat, atau benda. Manusia
merupakan bagian dari alam semesta sehingga manusia tidak berbeda dari alam itu
sendiri. Yang esensial dari manusia adalah badanya,
bukan jiwa atau rohnya. Manusia adalah apa yang nampak dalam wujudnya, terdiri atas zat
(daging, tulang, urat syaraf). Segala hal yang bersifat kejiwaan, spiritual
atau rohaniah pada manusia dipandang hanya sebagai resonansi saja dari
fungsinya badan atau organ tubuh.
Ø Idealisme : bertolak
belakang dengan pandangan di atas, menurut penganut Idealisme bahwa esensi diri
manusia adalah jiwanya atau spiritnya atau rohaninya. Dalam hubungannya dengan
badan, jiwa berperan sebagai pemimpin badan, jiwalah yang mempengaruhi badan
karena itu badan mempunyai ketergantungan kepada jiwa. Jiwa adalah asas primer
yang menggerakkan semua aktivitas manusia, badan tanpa jiwa tiada memiliki
daya.
Ø Dualisme : dari dua
pandangan diatas tampak bertolak belakang. Pandangan pertama bersifat monis-materialis, sedangkan kedua
bersifat monis-spiritualis. Menurut
Descartes esensi diri manusia terdiri atas dua substansi, yaitu badan dan jiwa. Oleh karena manusia
terdiri atas dua substansi yang berbeda (badan dan jiwa) maka antara keduanya
tidak terdapat hubungan
salaing mempengaruhi, namun demikian setiap peristiwa kejiwaan selalu pararel
dengan peristiwa badaniah atau sebaliknya.
Sebagai
kesatuan jasmani-rohani, manusia
hidup dalam ruang dan waktu, sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai
berbagai kebutuhan, insting, nafsu, serta mempunyai tujuan. Selain itu, manusia
potensi untuk beriman dan
bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan potensi berperasaan (rasa), potensi berkehendak (karsa), dan memiliki
potensi untuk berkarya. Adapaun dalam eksitensinya manusia memiliki aspek
individualitas, sosialitas, moralitas, keberbudayaan dan keberagamaan.
Implikasinya maka manusia itu berinteraksi atau berkomunikasi, memiliki
historisitas dan dinamika.
3.
Manusia sebagai Makhluk Individu
Sebagai
individu manusia adalah kesatuan yang tak dapat dibagi antara aspek jasmani dan rohaninya.
Manusia bukan hanya badan, sebaliknya bukan hanya roh. Sebagai individu, setiap
manusia mempunyai perbedaan sehingga bersifat unik. Setiap manusia mempunyai
dunianya sendiri, tujuan hidupnya sendiri. Masing-masing secara sadar berupaya
menunjukkan eksistensinya, ingin menjadi dirinya sendiri atau bebas
bercita-cita untuk menjadi seseorang tertentu, dan masing-masing mampu menyatakan “inilah
aku” di tengah-tengah segala yang ada. Karena itu, manusia adalah
subjek dan tidak boleh dipandang sebagai objek.
4.
Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia
adalah makhluk individual, namun demikian ia tidak hidup sendirian, tak mungkin
hidup sendirian, dan tidak pula hidup hanya untuk dirinya sendiri. Manusia
hidup dalam keterpautan dengan sesamanya. Di samping itu, setiap individu
mempunyai dunia dan tujuan hidupnya
masing-masing, mereka juga mempunyai dunia
bersama dan tujuan hidup bersama
dengan sesamanya. Sehubungan ini Aristoteles menyebut manusia sebagasi makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat.
Oleh
karena setiap manusia adalah pribadi (individu) dan adanya hubungan pengaruh
timbal balik antara individu dengan sesamanya maka idealnya situasi hubungan
antara individu dengan sesamanya itu tidak merupakan hubungan antara subjek dengan
objek, melainkan subjek dengan subjek. Berdasarkan hal itu dan karena terdapat
hubungan timbal balik antara individu dengan sesamanya dalam rangka mengukuhkan eksisitensinya masing-masing maka
hendaknya terdapat keseimbangan antara individualitas dan sosialitas pada
setiap manusia.
5. Manusia sebagai Makhluk Berbudaya
Manusia pada
dasarnya adalah makhluk budaya yang harus membudayakan dirinya. Manusia sebagai
makhluk budaya mampu melepaskan diri dari ikatan dorongan nalurinya serta mampu
menguasai alam sekitarnysa dengan alat pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini berbeda dengan
binatang sebagai makhluk hidup yang sama-sama makhluk alamiah dengan manusia
dia tidak dapat melepaskan dari ikatan dorongan nalurinya dan terikat erat oleh
alam sekitarnya.
Istilah
kebudayaan berasal dari kata budh berasal dari bahasa Sansekerta. Dari
kata budh ini kemudian dibentuk kata budhayah yang artinya bangun atau
sadar. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah culture.
Manusia
memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudaayaan, hidup berbudaya,
dan membudaya. Kebudayaan bukan sesuatu yang ada di luar manusia, bahkan
hakikatnya meliputi perbuatan manusia itu sendiri. Sejalan dengan ini Ernst
Cassirer menegaskan bahwa “ manusia tidak
menjadi manusia karena sebuah faktor di dalam dirinya, seperti misalnya
naluri atau akal budi, melainkan fungsi kehidupannya, yaitu pekerjaannya dan
kebudayaannnya”.
Kebudayaan
memiliki fungsi bagi kemungkinan eksistensinya manusia, namun demikian apabila
manusia kurang bijaksana dalam mengembangkannya, kebudayaan pun dapat
menimbulkan kekuatan-kekuatan yang mengancam eksistensi manusia. Kodrat dinamika hidup manusia
mengimplikasikan adanya perubahan dan pembaharuan eksistensinya. Selain itu,
mengingat adanya dampak kebudayaan terhadap manusia, masyarakat kadang-kadang
terombang-ambing di antara dua ralasi kecenderungan. Di satu pihak ada yang mau
melestarikan bentuk-bentuk lama (tradisi), sedang yang lain terdorong untuk
menciptakan hal-hal baru (inovasi). Ada pergolakan yang tak kunjung reda antara
tradisi dan inovasi.
6. Manusia sebagai Makhluk Susila
Manusia
sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai potensi dan kemampuan untuk
berfikir, berkehendak bebas, bertanggung jawab, serta punya potensi untuk berbuat baik. Karena itulah, eksistensi
manusia memiliki aspek kesusilaan. Menurut Immanuel Kant, manusia memiliki
aspek kesusilaan karena pada manusia terdapat rasio praktis yang memberikan perintah mutlak (categorical
imperative). Sebagai makhluk
otonom atau memiliki kebebasan, manusia selalu dihadapkan pada satu alternatif
tindakan yang harus dipilihnya.
Adapun
kebebasan berbuat ini juga selalu berhubungan dengan norma-norma moral dan nilai-nilai
moral yang juga harus dipilihnya. Karena manusia mempunyai kebebasan
memilih dan menentukan perbuatannya secara otonom maka selalu ada penilaian
moral atau tuntutan pertanggung jawaban atas perbuatannya.
7. Manusia sebagai Makhluk Beragama
Aspek
Keberagamaan merupakan salah satu
karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan
atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yg diwujudkan dalam sikap dan
perilaku. Keberagamaan menyiratkan adanya pengakuan dan pelaksanaan yang
sungguh atas suatu agama, adapun yang dimaksud dengan agam ialah : “satu sistem
credo (tata keimanan atau keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar
manusia, satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya
mutlak itu, dan satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manuisa
dengan manusia dan alam lainnya yang sesuai dan sejalan dengan tata keimanan
dan tata peribadatan termaksud di atas.
Manusia
memiliki potensi untuk mampu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Di lain pihak, Tuhan pun telah menurunkan wahyu melalui utusan-utusanNya, dan
telah menggelar tanda-tanda di alam semesta untuk dipikirkan oleh manusia agar
(sehingga) manusia beriman dan bertakwa kepadaNya. Manusia hidup beragama
kerana agama menyangkut masalah-masalah yang bersifat mutlak maka pelaksanaan
keberagamaan akan tampak
dalam kehidupan
sesuai agama yang dianut masing-maswing individu. Dalam keberagamaan ini
manusia akan merasakan hidupnya menjadi bermakna. Ia memperoleh kejelasan
tentang dasar hidupnya, tata cara hidup dalam berbagai aspek kehidupannya, dan
menjadi jelas pula apa yang menjadi tujuan hidupnya.
8. Manusia sebagai
Makhluk Berpendidikan
Pendidikan
adalah humanisasi, yaitu upaya memanusiakan manusia atau upaya membantu manusia
agar mampu mewujudkan diri sesuai dengan martabat kemanusiaan. Sebab manusia
menjadi manusia yang sebenarnya jika ia mampu merealisasikan hakikatnya secara
total maka pendidikan hendaknya merupakan upaya yang dilaksanakan secara sadar
dengan bertitik tolak pada asumsi tentang hakikat manusia.
Hidup
bagi manusia bukan sekedar hidup sebagaimana hidupnya tumbuhan atau hewan,
melainkan hidup sebagai manusia. Hak hidup bagi manusia mengimplikasikan hak
untuk mendapatkan pendidikan. Sebab hak asasi manusia diinjak-injak oleh
penguasa pemerintahan monarki dan absolutisme. Melalui pendidikan hak asasi
diupayakan agar diperoleh setiap individu.
Power, 1982 (Tim
Pengajar, 2009: 92) menjelaskan penerapan filsafat pendidikan eksistensialisme
dalam praktik pelaksanaan pndidikan seperti berikut ini :
1.
Tujuan pendidikan
Pendidikan memberikan bekal
pengalaman yang luas dan komperhensif dalam semua bentuk kehidupan.
2.
Status peserta didik
Peserta didik adalah manusia
yang rasional, bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Membutuhkan
komitmen akan pemenuhan tujuan pribadi.
3.
Kurikulum
Kurikulum bersifat liberal,
yakni memiliki kebebasan menmilih dan menentukan aturan-aturan serta pegalaman
belajar sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik dari kehidupan mereka.
Di sekolah dibina agar terbentukpada diri peserta didik rasa hormat (respek),
respek terhadap kebebasan bagi yang lain seperti dalam dirinya, karena itu diajarkan
pendidikan sosial.
4.
Peranan guru
Guru berperan melindungi dan
memelihara kebebasan akademik, tidak jarang terjadi bahwa mungkin suatu hari
ini adalah guru, besok lusa mungkin mejadi peserta didik.
5.
Metode
Yang diutamakan dalam praktik
pembelajaran adalah pencapaian tujuan yakni mencapai kebahagiaan dan
kepribadian yang baik, sedangkan metode merupakan cara untuk mencapai tujuan
tersebut. Oleh karena itu, penggunaan metode tidak terlalu dipikirkan secara
mendalam.
Contoh pendidikan
eksistensialisme yaitu adanya penerapan program ekstrakurikuler di sekolah.
Dalam program ini peserta didik bebas memilih apa yang menjadi kesenangan dan
bakat mereka tanpa adanya paksaan. Dari program ekstrakurikuler ini peserta
didik dapat menunjukkan prestasi dan eksistensinya.
2.2 Filsafat
Pendidikan Progresivisme
Filsafat pendidikan
progresiv lahir di Amerika Serikat. Filsafat ini sejalan dengan jiwa bangsa
Amerika pada waktu itu, sebagai bangsa yang dinamis berjuang mencari hidup baru
di negeri seberang. Bagi mereka tidak da hidup yang tetap, apalagi nilai-nilai
yang abadi. Yang ada adalah perubahan. Mereka sangat menekankan kehidupan
sehari-hari, maka segala tindakan mereka diukur dari kegunaan praktisnya.
Karena
tujuan tidak pasti, maka cara atau alat untuk mencapai tujuan itu pun tidak
pasti pula. Tujuan dan alat bagi mereka adalah satu, artinya bila tujuan
berubah maka alat pun berubah pula. Tokoh filsafat pendidikan progresivisme ini
adalah John Dewey (Pidarta, 2007:92).
Menurut
penganut aliran ini bahwa kehidupan manusia berkembang terus menerus dalam
suatu arah positif. Apa yang dipandang benar sekarang belum tentu benar pada
masa yang akan dating. Oleh sebab itu, peserta didik bukan dipersiapkan untuk
menghidupi kehidupan masa kini, melainkan mereka harus dipersiapkan untuk
menghadapi kehidupan masa datang. Permasalahan hidup kini tidak akan sama
dengan permasalahan hidup masa yang akan dating. Untuk itu, peserta didik harus
diperlengkapi dengan strategi-strategi menghadapi kehidupan masa dating dan
pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi permasalahan-permasalahn
baru dalam kehidupan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada
masa itu (Edward dan Yusnadi, 2015:28).
Aliran
progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam
semua realita, terutama dalam kehidupan untuk tetap survive terhadap semua
tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi
keagungannya. Progresivisme dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini
beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk
kesejahteraan, untuk mengembangkan kepribadian manusia. Dinamakan eksperimental
atau empirik karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen
untuk menguji kebenaran suatu teori. Progresivisme dinamakan environtalisme
karena aliran ini menganggap lingkungan hidup ini mempengaruhi pembinaan
kepribadian (Imam Muis, 2004).
Aliran
progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi:
ilmu hayat, bahwa manusia untuk mengetahui semua masalah kehidupan. Antropologi
yaitu bahwa manusia memiliki pengalaman, pencipta budaya, dengan demikian dapat
mencari hal baru. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya
sendiri, lingkungan, pengelaman-pengalamannya, sifat-sifat alam, dapat
menguasai dan mengaturnya.
penerapan
filsafat pendidikan progresivisme dalam praktik pelaksanaan pndidikan seperti
berikut ini :
1.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan
menurut aliran ini adalah harus memberikan keterampilan dan alat-alat yang
bermanfaat untuk berintraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses
perubahan secara terus menerus. Siswa diharapkan memiliki keterampilan
pemecahan masalah yang dapat digunakkan untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan
masalah.
Pendidikan
bertujuan agar siswa memilki kemampuan memecahkan berbagai masalah baru dalam
kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial, atau dalam berinteraksi dengan
lingkungan sekitar yang berada dalam proses perubahan. Selain itu, pendidikan
juga bertujuan membantu peserta didik untuk menjadi warga negara yang
demokratis yang mampu mengemukakan pendapatnya sesuai minat yang dimilikinya
melalui pengalamannya
Proses belajar
mengajar terpusatkan pada siswa dalam prilaku dan disiplin diri. Tujuan
keseluruhan pendidikan sendiri adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja,
bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan
sepenuhnya bakat dan minat setiap anak. Agar dapat bekerja siswa diharapkan
memiliki keterampilan, alat dan pengalaman sosial, dan memiliki pengalaman
memecahkan masalah.
2.
Kurikulum Pendidikan
Kalangan
progresif menempatkan subjek didik pada titik sumbu sekolah (child-centered). Mereka lalu berupaya
mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang berpangkal pada kebutuhan,
kepentingan, dan inisiatif subjek didik. Jadi, ketertarikan anak adalah titik
tolak bagi pengalaman belajar. Imam Barnadib menyatakan bahwa kurikulum progresivisme
adalah kurikulum yang tidak beku dan dapat direvisi, sehingga yang cocok adalah
kurikulum yang berpusat pada pengalaman.
Kurikulum disusun
dengan pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial,
selain sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam
pengalaman-pengalaman siswa dan dalam pemecahan masalah serta dalam suatu
kegiatan kelompok.
Sekolah dapat
memberi jaminan kepada para siswanya selama belajar, yaitu dengan membantu dan
menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat
untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan
guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Kurikulum dikatakan baik apabila
bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki
keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Sikap progressvisme,
memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas, dinamika dan sifat-sifat
yang sejenis, tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai
pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan
yang teratur.
3.
Metode Pendidikan
Metode pendidikan
yang biasanya dipergunakan oleh aliran progresivisme diantaranya adalah :
a.
Metode Pendidikan Aktif
Pendidikan progresif lebih
berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya
proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan
minatnya.
b.
Metode Memonitor Kegiatan Belajar
Mengikuti proses kegiatan
anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan apabila diperlukan yang
sifatnya memperlancar berlangsung kegiatan belajar tersebut.
c.
Metode Penelitian Ilmiah
Pendidikan progresif merintis
digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada penyusunan konsep.
d.
Pemerintahan Pelajar
Pendidikan progresif
memperkenalkan pemerintahan pelejar dalam kehidupan sekolah dalam rangka
demokratisasi dalam kehidupan sekolah.
e.
Kerjasama Sekolah Dengan Keluarga
Pendidikan Progresif
mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam rangka
menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengekspresikan
secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak.
f.
Sekolah Sebagai Laboratorium Pembaharuan Pendidikan
Sekolah tidak hanya tempat
untuk belajar, tetapi berperanan pula sebagai laboratoriun dan pengembangan
gagasan baru pendidikan.
4.
Belajar
Proses belajar
terpusat pada anak dengan memberikan perhatian anak. Namun guru tidak
membiarkan anak mengikuti apa yang ia inginkan, karena anak belum cukup matang
untuk menentukan tujuan yang memadai. Anak membutuhkan bimbingan dan arahan
dari guru dalam melaksanakan aktifitasnya. Anak didik adalah subjek aktif,
bukan pasif, sekolah adalah dunia kecil (miniatur) dari masyarakat besar,
aktifitas ruang kelas difokuskan pada praktik pemecahan masalah, serta atmosfer
sekolah diarahkan pada situasi yang kooperatif dan demokratis. Mereka menganut
prinsip pendidikan perpusat pada anak (child-centered). Mereka menganggap bahwa
anak itu unik. Anak adalah anak yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Anak mempunyai
alur pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan
dan kecemasan sendiri yang berbeda dengan orang dewasa.
5.
Peranan Guru
Guru menurut
pandangan filsafat progresivisme adalah sebagai penasihat, pembimbing, pengarah
dan bukan sebagai orang pemegang otoritas penuh yang dapat berbuat apa saja
(otoriter) terhadap muridnya. Sebagai pembimbing karena guru mempunyai
pengetahuan dan pengalaman yang banyak di bidang anak didik maka secara
otomatis semestinya ia akan menjadi penasihat ketika anak didik mengalami jalan
buntu dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Oleh karena itu peran utama
pendidik adalah membantu peserta didik atau murid bagaimana mereka harus
belajar dengan diri mereka sendiri, sehingga pesrta didik akan berkembang
menjadi orang dewasa yang mandiri dalam suatu lingkungannya yang berubah.
Teori
progresivisme ingin mengatakan bahwa tugas pendidik sebagai pembimbing aktivitas
anak didik dan berusaha memberikan kemungkinan lingkungan terbaik untuk
belajar. Sebagai Pembimbing ia tidak boleh menonjolkan diri, ia harus bersikap
demokratis dan memperhatikan hak-hak alamiah peserta didik secara keseluruhan.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan psikologis dengan keyakinan bahwa
memberi motivasi lebih penting dari pada hanya memberi informasi. Pendidik atau
guru dan anak didik atau murid bekerja sama dalam mengembangkan program belajar
dan dalam aktualisasi potensi anak didik dalam kepemimpinan dan kemampuan lain
yang dikehendaki. Dengan demikian dalam teori ini pendidik/guru harus jeli,
telaten, konsisten, luwes, dan cermat dalam mengamati apa yang menjadi kebutuhan
anak didik, menguji dan mengevaluasi kepampuan-kemampuannya dalam tataran
praktis dan realistis. Hasil evaluasi menjadi acuan untuk menentukan pola dan
strategi pembelajaran ke depan. Dengan kata lain guru harus mempunyai
kreatifitas dalam mengelola peserta didik, kreatifitas itu akan berkembang dan
berfariasi sebanyak fariasi peserta didik yang ia hadapi.
6.
Peserta Didik
Teori
progresivisme menempatkan pesrta didik pada posisi sentral dalam melakukan
pembelajaran. karena murid mempunyai kecenderungan alamiah untuk belajar dan
menemukan sesuatu tentang dunia di sekitarnya dan juga memiliki
kebutuhan-kebutuhan tertentu yang harus terpenuhi dalam kehidupannya.
Kecenderungan dan kebutuhan tersebut akan memberikan kepada murid suatu minat
yang jelas dalam mempelajari berbagai persoalan. Secara institusional sekolah harus
memelihara dan manjamin kebebasan berpikir dan berkreasi kepada para murid,
sehingga mereka memilki kemandirian dan aktualisasi diri, namun pendidik tetap
berkewajiban mengawasi dan mengontrol mereka guna meluruskan kesalahan yang
dihadapi murid khusunya dalam segi metodologi berpikir. Dengan demikian
prasyarat yang harus dilakukan oleh peserta didik adalah sikap aktif, dan
kreatif, bukan hanya menunggu seorang guru mengisi dan mentransfer ilmunya
kepada mereka. Murid tidak boleh ibarat “botol kosong” yang akan berisi ketika
diisi oleh penggunanya. Jika demikian yang terjadi maka proses belajar mengajar
hanyalah berwujud transfer of knowledge dari seorang guru kepada murid, dan ini
tidak akan mencerdasakan sehingga dapat dibilang tujuan pendidikan gagal.
Prinsip-prinsip
pendidikan menurut pandangan progresivisme menurut Kneller (dalam Uyoh
Sadullah, 2010:148) meliputi:
a.
Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk
hidup.
b.
Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat
anak, minat
individu yang dijadikan sebagai motivasi belajar.
c.
Belajar melalui pemecahan masalah akan menjadi presenden
terhadap pemberian subject matter. Jadi, belajar harus dapat memecahkan masalah
yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak. Dalam memecahkan suatu
masalah, anak dibawa berpikir melewati beberapa tahapan yang disebut metode
berpikir ilmiah, sebagai berikut:
·
Anak menghadapi keraguan, merasakan adanya masalah
·
Menganalisis masalh tersebut dan menduga atau menyusun
hipotesis-hipotesis yang mungkin
·
Mengumpulkan data yang akan membatasi dan memperjelas masalah
·
Memilih dan menganalisis hipotesis
·
Mencoba, menguji, dan membuktikan
d.
Peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada
siswa
e.
Sekolah harus memberi semangat bekerja sama, bukan
mengembangkan persaingan.
f.
Kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan
bagi pertumbuhan.
Contoh penerapan
aliran filsafat progresivisme dapat terlihat dari perubahan sistem mengajar di
sekolah. Dulu sekolah-sekolah di Indonesia menerapkan pembelajaran Teacher
Learning Centre (TLC), dimana guru menjadi pusat pembelajaran. Namun karena
perkembangan zaman dan kesadaran akan perlunya mempersiapkan peserta didik yang
mampu mengatasi masalah-masalah baru yang muncu di kehidupan yang akan datang
maka diterapkanlah Student Learning Centre (SLC), diman peserta didik memiliki
kesempatan luas untuk bereksplorasi, menemukan hal-hal baru, serta
mengembangkan pendapat dan pikiran mereka. Pada pembelajaran SLC, guru hanya
berperan sebagai pembimbing dan fasilitator untuk peserta didik.
2.3 Filsafat
Pendidikan Perenialisme
Filsafat ini muncul pada abad
pertengahan pada zaman keemasan agama Katolik-Kristen. Pada zaman itu
tokoh-tokoh agam menguasai hamper semua bidang kemasyarakatan. Sehingga sangat
logis kalau sekolah-sekolah yang berintikan ajaran agama muncul di sana-sini.
Ajaran agam itulah merupakan suatu kebenaran yang patut dipelajari dan
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh filsafat ini ialah Agustinus dan
Thomas Aquino.
Ajaran
Plato tentang dunia ide dalam filsafat Idealis, yang muncul lebih dahulu dari
perenialis, mirip dengan paham Agustinus. Sebab menurut Plato kebenaran hanya
ada di dunia ide, diluar itu adalah semu saja. Sebab iti Plato sering
dimasukkan sebagai penganut perenialis.
Pengaruh
filsafat ini menyebar ke seluruh dunia. Bukan saja di kalangan Katolik dan
Protestan, tetapi juga pada agama-agama lain. Demikianlah kita lihat di
Indonesia banyak sekolah diwarnai keagaam seperti Muhammadiyah dan Nahdatul
Ulama di samping sekolah-sekolah Katolik dan Kristen (Pidarta, 2007:91-92).
Perenialisme
merupakan aliran yang menentang ajaran progesivisme. Perenialisme mengambil
jalan regresif karena mempunyai pandangan bahwa tidak ada jalan kecuali kembali
kepada prinsip-prinsip umum yang telah menjadi dasar tingkah laku dan perubahan
zaman kuno dan abad pertengahan. Motif perenialisme dengan mengambil jalan
regresif bukanlah hanya nostalgia atau rindu akan nilai-nilai lama untuk
diingat atau dipuja, melainkan berpendapat bahwa nilai tersebut mempunyai
kedudukan vital bagi pembangunan kebudayaan abad kedua puluh. Prinsip-prinsip
aksiomatis yang terikat oleh waktu terkandung dalam sejarah.
Berikut ini ada
beberapa prinsip pendidikan perenialisme, sebagai berikut:
a.
Pada hakekatnya manusia adalah sama dimanapun dan kapanpun ia
berada, yang walau lingkungannya berbeda. Tujuan pendidikan adalah
b.
sama dengan tujuan hidup, yaitu untuk mencapai kebijakan dan
kebajikan, untuk memperbaiki manusia sebagai manusia atau dengan kata lain
pemuliaan manusia. Oleh karena itu maka pendidikan harus sama bagi semua orang
kapanpun dan dimanapun.
c.
Bagi manusia, pikiran adalah kemampuan yag paling tinggi.
Karena itu manusia harus menggunakan pikirannya untuk mengembangkan bawaannya
sesuai dengan tujuannya.manusia memiliki kebebasan namun harus belajar untuk
mempertajam pikiran dan dapat mengintrol hawa nafsunya. Kegagalan yang dialami
peserta didik jangan dengan cepat menyalahkan lingkungan yang kurang menguntungkan
atau nuansa psikologis yang kurang menyenangkan, namun guru hendaknya dapat
mengatasinya dengan pendekatan intelektual yang sama bagi semua peserta didik.
d.
Fungsi utama pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang
kebenaran yang pasti dan abadi. Pengetahuan yang penting diberikan kepada
peserta didik adalah mata pelajaran pendidikan umum atau general education,
bukan mata pelajaran yang hanya penting sesaat atau menarik minat pada saat
tertentu saja atau seketika. Mata pelajaran yang esensi adalah pelajaran
bahasa, sejarah, matematika, IPA, filsafat dan seni, dan 3 R’s; membaca,
menulis, dan menghitung.
e.
Pendidikan adalah persiapan untuk hidup bukan peniruan untuk
hidup.
f.
Peserta didik harus mempelajari karya-karya besar dalam
literature yang menyangkut sejarah, filsafat, seni, kehidupan sosial terutama
politik dan ekonomi (Edward dan Yusnadi, 2015:30).
Penerapan
filsafat pendidikan perenialisme terhadap praktik pelaksanaan pendidikan,
sebagai berikut ini:
a.
Pendidikan
Perenialisme
memandang education as cultural regresion: pendidikan sebagai jalan kembali atau
proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan masa
lampau yang dianggap sebagai kebudayaan yang ideal. Tugas pendidikan adalah
memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai kebenaran yang pasti, absolut, dan
abadi yang terdapat dalam kebudayaan masa lampau yang dipandang kebudayaan
ideal tersebut. Sejalan dengan hal diatas, perenialist percaya bahwa
prinsip-prinsip pendidikan juga bersifat universal dan abadi. Robert M. Hutchins
mengemukakan ”Pendidikan mengimplikasikan pengajaran, pengajaran mengimplikasikan
pengetahuan. Pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran dimana pun dan kapan pun
adalah sama”. Selain itu, pendidikan dipandang sebagai suatu persiapan untuk
hidup, bukan hidup itu sendiri.
b.
Tujuan pendidikan
Bagi perenialist
bahwa nilai-nilai kebenaran bersifat universal dan abadi, inilah yang harus
menjadi tujuan pendidikan yang sejati. Sebab itu, tujuan pendidikannya adalah
membantu peserta didik menyingkapkan dan menginternalisasikan nila-nilai
kebenaran yang abadi agar mencapai kebijakan dan kebaikan dalam hidup.
c.
Sekolah
Sekolah merupakan
lembaga tempat latihan elite intelektual yang mengetahui kebenaran dan suatu
waktu akan meneruskannya kepada generasi pelajar yang baru. Sekolah adalah
lembaga yang berperan mempersiapkan peserta didik atau orang muda untuk terjun
kedalam kehidupan. Sekolah bagi perenialist merupakan peraturan-peraturan yang
artificial dimana peserta didik berkenalan dengan hasil yang paling baik dari
warisan sosial budaya.
d.
Kurikulum
Kurikulum
pendidikan bersifat subject centered berpusat pada materi pelajaran. Materi
pelajaran harus bersifat uniform, universal dan abadi, selain itu materi
pelajaran terutama harus terarah kepada pembentukan rasionalitas manusia, sebab
demikianlah hakikat manusia. Mata pelajaran yang mempunyai status tertinggi
adalah mata pelajaran yang mempunyai “rational content” yang lebih besar.
e.
Metode
Metode pendidikan
atau metode belajar utama yang digunakan oleh perenialist adalah membaca dan
diskusi, yaitu membaca dan mendikusikan karya-karya besar yang tertuang dalam
the great books dalam rangka mendisiplinkan pikiran.
f.
Peranan guru dan peserta didik
Peran guru bukan hanya
sebagai perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai
“murid” yang mengalami proses belajar serta mengajar. Guru mengembangkan
potensi-potensi self-discovery, dan ia melakukan moral authority (otoritas
moral) atas murid-muridnya karena ia seorang profesional yang qualifiet dan
superior dibandingkan muridnya. Guru harus mempunyai aktualitas yang lebih, dan
perfect knowladge.
Contoh aliran
perenialisme pada pendidikan di Indonesia yaitu berdirinya sekolah-sekolah yang
berbasis agama seperti Muhammdiyah, Nahdatul Ulama, sekolah-sekolah Kristen,
dan Pondok Pesantren. Sekolah-sekolah seperti ini biasanya memiliki kurikulum
yang sedikit berbeda dan lebih mengedepankan ilmu agama karena agama dianggap
sebagai sesuatu yang memiliki nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah
menjadi pandangan hidup.
2.4 Filsafat
Pendidikan Esensialisme
Esensialisme bukan merupakan
suatu aliran filsafat tersendiri, yang mendirikan suatu bangunan filsafat
tersendiri, melainkan sutu gerakan dalam pendidikan yang memprotes pendidikan
progresivisme. Penganut faham ini berpendapat bahwa betul-betul ada yang
esensial dari pengalaman peserta didik yang memiliki nilai esensial dan perlu
dipertahankan. Esensi (essence) ialah hakikat barang sesuatu yang khusus
sebagai sifat terdalam dari sesuatu sebagai satuan yang konseptual dan akali.
Esensi adalah apa yang membuat sesuatu menjadi apa adanya. Esensi mengacu pada
aspek-aspek yang lebih permanen dan mantap dari sesuatu yang berlawanan dengan yang
berubah-ubah, parsial, atau fenomenal (Edward dan Yusnadi, 2015: 30-31).
Filsafat
pendidikan esensial bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti
berabad-abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah
suatu kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran yang esensial itu ialah
kebudayaan klasik yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku
klasik yang ditulis dengan bahasa Latin yang dikenal dengan nama Great Book. Buku ini sudah berabad-abad
lamanya mampu membentuk manusia-manusia berkaliber internasional. Inilah bukti
bahwa kebudayaan ini merupakan suatu kebenaran yang esensial. Tokohnya antara
lain Brameld. Tekanan pendidikanya adalah pada pembentukan intelektual dan
logika. Dengan mempelajari kebudayaan Yunani-Romawi yang menggunakan bahasa
Latin yang sulit itu, diyakini otak peserta didik akan terasah dengan baik dan
logikanya akan berkembang. Disiplin sangat diperhatikan. Pelajaran dibuat
sangat berstruktur, dengan materi pelajaran berupa warisan kebudayaan, yang
diorganisasi sedemikian rupa sehingga mempercepat kebiasaan berpikir efektif.
Pengajaran terpusat pada guru (Pidarta, 2007: 90-91).
Esensialisme yang berkembang
pada zaman Renaissance mempunyai tinjauan yang berbeda dengan progressivisme
mengenai pendidikan dan kebudayaan. Jika progressivisme menganggap pendidikan
yang penuh fleksibelitas, serba terbuka untuk perubahan, tidak ada keterkaitan
dengan doktrin tertentu, toleran dan nilai-nilai dapat berubah dan berkembang,
maka aliran Esensialisme ini memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada
dasar pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber
timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah dan tidak
menentu serta kurang stabil. Karenanya pendidikan haruslah diatas pijakan nilai
yang dapat mendatangkan kestabilan dan telah teruji oleh waktu, tahan lama dan
nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan terseleksi. Nilai-nilai yang dapat
memenuhi adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif, Puncak
refleksi dari gagasan ini adalah pada pertengahan kedua abad ke sembilan belas
(Imam Barnadib, 1987:29).
Ciri-ciri
filsafat pendidikan esensialisme yang disarikan oleh William C. Bagley adalah
sebagai berikut :
1.
Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari
upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena
dorongan dari dalam diri siswa.
2.
Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang dewasa
adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan
yang khusus pada spsies manusia.
3.
Oleh karena kemampuan untuk mendisiplin diri harus menjadi
tujuan pendidikan, maka menegakan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan
untuk mencapai tujuan tersebut.
4.
Esensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh, kuat tentang
pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan
sebuah teori yang lemah.
Penerapan
filsafat pendidikan perenialisme terhadap praktik pelaksanaan pendidikan,
sebagai berikut ini:
a.
Pendidikan
Bagi penganut
Esensialisme pendidikan merupakan upaya untuk memelihara kebudayaan, “Edukation
as Cultural Conservation”. Mereka percaya bahwa pendidikan harus didasarkan
kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.
Sebab kebudayaan tersebut telah teruji dalam segala zaman, kondisi dan sejarah.
Kebudayaan adalah esensial yang mempu mengemban hari kini dan masa depan umat
manusia.
b.
Tujuan pendidikan
Pendidikan
bertujuan mentransmisikan kebudayaan untuk menjamin solidaritas sosial dan
kesejahteraan umum.
c.
Sekolah
Fungsi utama
sekolah adalah memelihara nilai-nilai yang telah turun-temurun, dan menjadi
penuntun penyesuaian orang (individu) kepada masyarakat. Sekolah yang baik
adalah sekolah yang berpusat pada masyarakat, “society centered school”, yaitu
sekolah yang mengutamakan kebutuhan dan minat masyarakat.
d.
Kurikulum
Kurikulum (isi
pendidikan) direncanakan dan diorganisasi oleh seorang dewasa atau guru sebagai
wakil masyarakat, society centered. Hal ini sesuai dengan dasar filsafat
idealisme dan realisme yang menyatakan bahwa masyarakat dan alam (relisme) atau
masyarakat dan yang absolut (idealisme) mempunyai peranan menentukan bagaimana
seharusnya individu (peserta didik) hidup.
e.
Metode
Dalam hal metode
pendidikan Esensialisme menyarankan agar sekolah-sekolah mempertahankan metode-metode
tradisional yang berhubungan dengan disiplin mental. Metode problem solving
memang ada manfaatnya, tetapi bukan prosedur yang dapat diterapkan dalam
seluruh kegiatan belajar.
f.
Peranan guru dan peserta didik
Guru atau
pendidik berperan sebagai mediator atau “jembatan” antara dunia masyarakat atau
orang dewasa dengan dunia anak. Guru harus disiapkan sedemikian rupa agar
secara teknis mampu melaksanakan perannya sebagai pengarah proses belajar.
Adapun secara moral guru haruslah orang terdidik yang dapat dipercaya. Dengan
denikian inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada peserta
didik.
Peran peserta
didik adalah belajar, bukuan untuk mengatur pelajaran. Menurut idealisme
belajar, yaitu menyesuaikan diri pada kebaikan dan kebenaran seperti yang telah
ditetapkan oleh yang absolut. Sedangkan menurut realisme belajar berarti
penyesuaian diri terhadap masyarakat dan alam. Belajar berarti menerima dan
mengenal dengan sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang
timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan kepada angkatan berikutnya
(Dinn Wahyudin, 2010:4.20-4.22).
2.5 Filsafat
Pendidikan Rekonstruksionisme
Filsafat pendidikan
Rekonstruksionisme merupakan variasi dari progresivisme, yang menginginkan
kondisi manusia pada umunya harus diperbaiki. Mereka bercita-cita
mengkonstruksi kembali kehidupan manusia secara total. Semua bidang kehidupan
harus diubah dan dibuat baru aliran yang ekstrim ini berupaya merombak tata
susunan masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru sama sekali,
melalui lembaga dan protes pendidikan. Proses belajar dan segala sesuatu
bertalian dengan pendidikan tidak banyak berbeda dengan aliran progresivisme
(Pidarta, 2007:93).
Rekonstruksionisme
berasal dari kata reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam
konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang
berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan
yang bercorak modern. Aliran ini dipelopori oleh George Count dan Harold
Rugg pada tahun 1930 ( Teguh, 2013:189).
Pada
dasarnya aliran rekonstruksionisme adalah sepaham dengan aliran perennialisme
dalam hendak mengatasi krisis kehidupan modern. Hanya saja jalan
yang ditempuhnya berbeda dengan apa
yang dipakai oleh perennialisme, tetapi sesuai dengan istilah yang
dikandungnya, yaitu berusaha membina konsensus yang paling luas dan
paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia
restore to the original form. Untuk mencapai tujuan itu, rekonstruksionisme
berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat
mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan baru seluruh lingkungannya.
Maka melalui lembaga dan proses pendidikan, rekonstruksioonisme ingin “merombak
tata susunan lama, dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali
baru” (Zuhairini, 1995:29).
Brameld
mengemukakan teori pendidikan rekonstruksionisme terdiri dari lima tesis,
yakni:
a.
Pendidikan berlangsung saat ini untuk menciptakan tata sosial
baru yang akan mengisi nilai-nilai dasar budaya masa kini, selaras dengan yang
mendasari kekuatan-kekuatan ekonomi, dan sosial masyarakat modern.
b.
Demokrasi sejati merupakan dasar dari kehidupan masyarakat
baru. Lembaga utama di masyarakat ditentukan dan dikontrol oleh masyarakat itu
sendiri. Segala harapan dan kepentingan/kebutuhan masyarakat menjadi tanggung
jawab rakyat melalui wakil-wakil yang dipilih.
c.
Anak, sekolah dan pendidikan diatur oleh kekuatan dan budaya
sosial. Rekonstruksionisme memandang kehidupan beradab adalah hidup
berkelompok, sehingga sekolah harus berlangsung dalam kelompok yang berarti
bahwa kelompok memegang peran yang sangat penting di sekolah. Sekolah adalah
realisasi dari sosial (social self realization); melalui sekolah akan
dikembangkan bukan hanya sifat sosialnya akan tetapi kemampuan untuk melibatkan
diri dalam perencanaan sosial.
d.
Guru memegang peran penting dalam pendidikan di sekolah akan
tetapi dalam pelaksanaan tugasnya harus selalu memperhatikan prosedur
demokratis.
e.
Tujuan pendidikan adalah untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan
yang berhubungan dengan krisis budaya, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan
sains sosial yaitu nilai-nilai yang universal.
f.
Penyusunan kurikulum, isi pelajaran, metode yang dipakai,
struktur administrasi, dan cara bagaimana guru dilatih, sebaiknya harus
ditinjau kembali dan disesuaikan dengan teori kebutuhan tentang sifat dasar
manusia secara rasional dan ilmiah (Edward dan Yusnadi, 2015:32-33).
Berikut ini Power
mengemukakan implikasi pendidikan aliran rekonstruksionisme, seperti berikut
ini :
1.
Tema
Misi sekolah adalah untuk
meningkatkan rekonstruksi sosial dan pendidikan merupakan suatu usaha sosial.
2.
Tujuan Pendidikan
Pendidikan bertujuan untuk
menciptkan aturan sosial yang ideal. Transmisi budaya dalam kegiatan pendidikan
merupakan hal yang esensial terutama dalam masyarakat yang majemuk, oleh sebab
itu dalam kegiatan tersebut fakta budaya yang majemuk itu harus dipahami.
3.
Kurikulum
Kurikulum sekolah harus diwarnai
oleh semua budaya dan nilai-nilai yang berhubungan dengan sekolah, tidak boleh
didominasi oleh budaya mayoritas atau budaya yang ditentukan atau disukai.
4.
Kedudukan Siswa
Nilai-nilai budaya peserta
didik yang dibawa ke sekolah sangat dihargai, dan keluhuran pribadi dan
tanggung jawab sosial ditingkatkan.
5.
Metode
Belajar sambil bekerja
(learning by doing) adalah salah satu metode yang diakui dapat digunakan
disamping metode-metode yang digunakan dalam pendidikan progresif.
6.
Peranan Guru
Guru menghargai dengan tulus
dan ikhlas semua budaya dalam setiap interaksinya, baik di dalam kelas maupun
di luar kelas (Tim Pengajar, 2009: 98-99).
Contoh penerapan
aliran rekonstruksionisme yaitu pemberian tugas mandiri kepada peserta didik
secara berkelompok maupun individu. Seperti pembuatan karya ilmiah yang dapat
memberikan kesempatan untuk membangun pengetahuan dan pengalaman masing-masing
peserta didik. Dari tugas ini peserta didik dapat bersosialisasi dan
berinteraksi langsung dengan masyarakat di luar lingkungan sekolahnya, dapat
mengetahui masalah-masalah dan perkembagan apa saja yang terjadi di masyarakat
saat ini, serta dapat memberikan ide, pendapat, atau solusi-solusi atas
permasalahan sosial yang ada.
Komentar
Posting Komentar